OUTDOOR CLIMBING

Sudah hampir dua tahun sejak melewati separuh kehidupan yang dianugrahkan Tuhan, saya justru terobsesi melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim di usia yang relatif sudah tidak muda lagi.

Sedikit banyak kegiatan-kegiatan ekstrim yang saya lakukan ini terinspirasi oleh film “The Bucket List” yang saya tonton saat menginjak usia 35 pada tahun 2010 yang dibintangi oleh Jack Nicholson & Morgan Freeman (mengenai dua orang kakek-kakek yang divonis tidak akan hidup lebih lama diakibatkan penyakit yang mereka derita & memutuskan untuk melakukan bersama hal-hal gila-gilaan di dalam hidup ini).

Di tahun 2012 ini, yang konon katanya kiamat, saya justru bersyukur karena Tuhan berkenan mengabulkan salah satu keinginan “gila” saya untuk melakukan panjat tebing setelah sekian lama tertunda, berikut ceritanya:

Satu-satunya organisasi di Indonesia yang mengadakan pelatihan panjat tebing adalah Skygers yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat & mereka hanya mengadakan pelatihan satu kali saja setiap tahun alias kesempatan yang langka (anda harus menunggu tahun depan jika melewatkan kesempatan pada tahun ini).

Saya sudah mengincar-incar pelatihan yang mereka adakan sejak tahun 2010 namun pada waktu itu terlanjur terselenggara di Bali & untuk event 2011 saya buru-buru booking jauh-jauh hari kepada panitia untuk memasukkan saya sebagai peserta.

Namun selang satu tahun menanti, ternyata Skygers sepertinya lupa untuk menghubungi saya pada waktu mereka mengadakan pelatihan panjat tebing tahun 2011 di bulan Oktober.

Kuciwa euy karena waktu yang terbuang sia-sia menanti padahal sudah booking jauh-jauh hari (tapi karena tidak ada alternatif lain sebab Skygers hanya satu-satunya sekolah panjat tebing yang ada di Indonesia) maka pada tahun 2012 saya memutuskan untuk mengganti strategi dengan berinisiatif/proaktif menghubungi panitia dari waktu ke waktu tanpa duduk berpangku tangan lagi menunggu kabar dari panitia.

Akhirnya setelah 2 tahun, strategi saya membuahkan hasil dengan terdaftar sebagai salah satu peserta Sekolah Panjat Tebing Angkatan XXVI 18~21 Oktober 2012 yang diadakan di Bandung.

Lokasinya di kawasan Padalarang, pegunungan kapur Citatah dengan spot bernama Tebing 125 dikarenakan ketinggiannya 125 m dari permukaan tanah & merupakan tempat latihan panjat tebing resmi milik Kopassus.

Adapun biaya yang dikeluarkan relatif murah sekitar Rp. 2,5 juta diluar peralatan pribadi yang wajib dibawa sendiri oleh peserta seperti:

1. Ransel/daypack untuk menyimpan jaket dsb, bisa diperoleh dengan harga di bawah 100 rb
2. Helm pengaman kisaran harga di bawah 100 rb (saya baru tahu saat pelatihan kalau ternyata ada yang model lipat sehingga menghemat tempat & otomatis ransel yang dibawa bisa lebih kecil sebab melakukan pemanjatan dengan ukuran ransel yang relatif besar tidaklah praktis)
3. Harness model duduk yang berfungsi sebagai penyangga tubuh sekaligus perantara dengan tali pengaman (kernmantle), harganya sekitar 500 rb-an

4. Carabiner berkunci berfungsi untuk menghubungkan harness baik dengan tali pengaman maupun alat pengaman (akan dijelaskan lebih lanjut di bawah), minimal 2 buah @ sekitar 200 rb-an merk Eiger


5. Webbing/Tali tubuh/Sling yang digunakan sebagai perpanjangan untuk menghubungkan alat pengaman & carabiner berkunci sekaligus untuk membuat Cowtail yaitu sling yang terhubung ke harness & carabiner berkunci untuk dicantelkan ke pengaman baik yang berupa tali maupun alat lain (di bawah 10 rb per m, minimal 5 m)

6. Tali prusik digunakan menciptakan gesekan/pengereman pada saat menuruni tebing agar tidak mendadak atau untuk menggantikan fungsi sling (di bawah 10 rb per m, minimal 1.5 m)

(dan perlengkapan lain khususnya celana training, head lamp & sarung tangan yang tidak sempat diinformasikan oleh panitia, saya tidak tahu kalau ternyata malam hari pun disuruh memanjat & tidak membawa head lamp sehingga agak kesulitan & memanjat menggunakan celana jins tidaklah nyaman → sempat saya ganti dengan celana pendek namun resikonya kedinginan serta lecet-lecet termasuk telapak tangan jika tidak menggunakan sarung tangan)

Hari pertama pelatihan dimulai dengan pengenalan alat pengaman yang dipasang ke tebing untuk menahan beban tubuh pemanjat beserta cara pemasangannya & cara menilai apakah pengaman tersebut sudah terpasang dengan sempurna atau belum (tidak bergerak ke segala arah)

Ada banyak jenis pengaman seperti yang dibor ke dalam tebing (paling aman tapi dianggap merusak alam) namun 3 alat pengaman esensial bagi Skygers adalah:

A. Pasak/Piton yang terdiri dari:
– Kingpin untuk digunakan pada lubang/celah sempit, dimana pengaman ini akan tersangkut & terjepit di dalam celah apabila dipukul menggunakan palu

(ket gbr: lubang yang ada pada setiap pengaman berfungsi sebagai cantelan carabiner dimana tali yang menghubungkan antara pemanjat yang satu dengan lainnya melewati carabiner tersebut)

– Angle digunakan pada lubang/celah yang lebih lebar & cara kerjanya mirip seperti vizer setelah dilesakkan ke dalam lubang menggunakan palu

B. Pengaman sisip atau Stopper yang terdiri atas:
– Simetris yang digunakan saat menjumpai lubang/celah yang menyempit ke bawah seperti huruf “V”, dimana pengaman ini cukup disisipkan ke dalam celah seperti namanya tanpa perlu dipalu (hemat tenaga)

(ket gbr: yang ditengah adalah Choker, alat cungkil untuk melepaskan Stopper dari lubang/celah)

– Asimetris atau Hexentric berfungsi sama seperti Stopper Simetris namun digunakan apabila salah satu sisi lubang tidak membentuk huruf “V” yang simetris sempurna

(ket gbr: tali prusik yang digunakan oleh Stopper di atas dapat langsung dihubungkan ke sling tanpa melalui carabiner karena sama-sama berbahan textil)

C. Sisip pegas atau Friend
– Rigid digunakan apabila menjumpai lubang/celah vertikal yang membentuk huruf “V” terbalik alias menyempit ke atas, dimana pengaman jenis ini akan mengembang & berfungsi seperti vizer apabila disisipkan ke dalam lubang/celah (kelemahannya, pengaman jenis ini wajib tergantung menjuntai sempurna ke bawah & tidak boleh terpasang miring sebab tidak didesain untuk menahan beban geser)


– Flexible berfungsi sama seperti yang Rigid dengan kelebihan dapat menahan beban geser sehingga dapat disisipkan ke dalam lubang/celah dengan posisi tidak mutlak vertikal

(Ada juga pengaman alam seperti pohon yang dapat dijadikan tambatan maupun batu berlubang yang tembus ke sisi lain sehingga dapat disisipkan sling dari ujung lubang yang satu ke ujung yang lain, ilustrasinya seperti memasukkan benang ke dalam lubang jarum).

Malam harinya kami diwajibkan untuk melakukan pemanjatan solo ke sebuah gua di dalam tebing setinggi 20 meter menggunakan tangan kosong! Sepertinya ini merupakan proses inisiasi dari Skygers bagi pesertanya agar berhak mendapatkan sertifikat.

Meskipun ada tali pengaman yang terikat pada harness sehingga aman apabila terjatuh namun saya sama sekali belum pernah melakukan pemanjatan setinggi itu menggunakan tangan kosong apalagi dengan permukaan tebing nyaris vertikal! (paling-paling hanya menyaksikan teman-teman melakukan panjat dinding sewaktu kuliah).

Singkat cerita, untung saya berhasil mencapai gua meskipun dibantu dengan aba-aba dari instruktur tentang lokasi-lokasi yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan (saran saya siapkan kondisi tubuh yang fit sebab saya semata-mata beruntung bisa sampai ke gua padahal jarang berolahraga).

Keesokan harinya kami mulai dilatih untuk melakukan pemanjatan dalam tim, bertiga yang memiliki tugas masing-masing sebagai berikut:

1. Leader → bertugas sebagai pemanjat pertama untuk memasang alat pengaman baik itu pasak, Stopper maupun sisip pegas & memastikan nilai keamanannya sempurna bagi pemanjat berikutnya

(ket gbr: tali yang menjuntai ke bawah menghubungkan Leader dengan pemanjat lainnya & terhubung ke harness masing-masing pemanjat yang akan ditambatkan pada alat pengaman apabila Leader memutuskan untuk beristirahat).

2. Belayer/Penambat → bertugas sebagai pemanjat kedua hanya sesudah melakukan tugas utamanya yaitu mengamankan pemanjat lain saat terjatuh baik itu Leader maupun pemanjat terakhir, dimana dirinya terhubung dengan tali pengaman terhadap pemanjat lain & menahan jatuhnya pemanjat lain dengan dibantu alat bernama Belay Plate yang menciptakan gesekan/pengereman terhadap tali pengaman sekaligus mengulur tali apabila dibutuhkan Leader untuk bergerak naik

(apabila Leader memutuskan untuk beristirahat setelah melakukan satu sesi pemanjatan atau yang disebut satu pitch maka fungsi penambat akan diambil alih olehnya untuk menahan kemungkinan jatuhnya pemanjat kedua, dalam hal ini Belayer)

3. Sweeper/Cleaner → berfungsi sebagai pemanjat terakhir untuk membersihkan alat-alat panjat baik itu alat pengaman, sling, carabiner dsb. Senjatanya adalah Choker yang berfungsi untuk mencungkil Stopper serta palu untuk melepaskan pasak yang ditanam oleh Leader ke dalam tebing & dirinya diamankan oleh Belayer dari kemungkinan jatuh setelah pemanjat kedua tersebut tiba di posisi pemanjat pertama.

(sebagai catatan: setiap sesi pemanjatan atau dimulainya pitch yang baru, ketiga orang tersebut dapat bertukar posisi sesuai kesepakatan & tentunya melihat kemampuan masing-masing anggota tim → apabila Leader kelelahan mungkin dapat menjadi Belayer atau Sweeper & sebaliknya)

Ketiga proses di atas diulang terus menerus dimulai dari awal pemanjatan hingga mencapai puncak sehingga menjadi beberapa sesi pemanjatan atau multi pitch (berhubung panjang tali yang dibawa relatif pendek sekitar 50 m saja padahal ketinggian tebing mencapai 125 m sehingga proses ini harus diulang-ulang)

Gua yang sebelumnya harus kami panjat menggunakan tangan kosong sekarang dicapai dengan menggunakan peralatan & keesokan harinya kami belajar melakukan Rappeling yaitu menuruni tebing menggunakan tali prusik dengan alat bantu yang bernama Descender

(keduanya untuk menciptakan gesekan/pengereman ganda terhadap tali pengaman agar turunnya tidak mendadak).

(ket gbr: Mapala UI Powerpuff Girl)

Malam hari ketiga kami kembali diwajibkan melakukan pemanjatan menggunakan tangan kosong setinggi 15 m namun relatif lebih mudah saya rasakan berhubung struktur tebing yang dipanjat membentuk cerobong sehingga punggung dapat disandarkan ke salah satu sisi & kedua kaki tegak lurus terhadap tubuh digunakan untuk merayap naik atau kedua telapak tangan & telapak kaki menyentuh sisi-sisi cerobong (seperti permainan memanjat dinding di rumah pada waktu kanak-kanak).

Setelah kami bangun sekaligus merupakan hari terakhir, dimulailah pemanjatan sesungguhnya menuju puncak dimulai dari cerobong & saya merasa cukup beruntung dapat sampai ke puncak mengingat pada satu titik saya hampir tidak dapat mengangkat tubuh ini ke atas namun ada seorang peserta mantan atlet panjat dinding yang membantu menarik tangan saya ke atas (selama sesi pemanjatan terus terang saya hanya mengambil posisi Belayer & Sweeper berhubung ini merupakan pemanjatan tebing saya yang pertama sehingga lebih bijaksana jika saya menyerahkan posisi Leader kepada anggota tim yang sudah lebih berpengalaman)

Melakukan panjat tebing setinggi 125 m bagi sebagian orang bukan lah apa-apa namun merupakan sesuatu yang sangat berkesan di dalam ingatan saya.

Sungguh mengasyikkan sensasi tergantung di ketinggian 100 m dari permukaan tanah (kira-kira setinggi Monas), duduk di harness sambil melihat pemandangan di bawah yang menumbuhkan kecintaan & rasa hormat terhadap alam khususnya tebing & Tuhan seperti motto penggagas panjat tebing Indonesia sekaligus pendiri Skygers, Bapak Harry Suliztiarto → Tebing, Tuhan & Aku (usia beliau 57 tahun namun masih aktif memanjat dengan fisik “still in shape”, amazing if you see him directly considering his age!)

Skygers adalah kegiatan yang sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang berjiwa petualang, selain tidak adanya organisasi lain lagi yang memberikan pelatihan panjat tebing seperti mereka.

Akhir kata dari saya, salam keterjalan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: