MEDITASI LANGIT

Kira-kira satu tahun yang lalu memasuki usia tuwir, tiba-tiba timbul keinginan di dalam benak saya untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah terlintas di kepala sebelumnya, untuk mengetahui apakah saya masih bisa melakukannya? (mungkin ini yang disebut krisis paruh baya..he..he?).

Saya mulai tertarik melakukan olahraga2 ekstrim (padahal sebelumnya saya bukan lah tipe orang yang ekstrovert) & salah satunya adalah terjun payung/sky diving.

Saya mulai mencari-cari informasi untuk mewujudkannya namun sayangnya terbentur beberapa kendala antara lain minimnya penyelenggara olah raga terjun payung di Indonesia & saat ini terbatas dilakukan oleh angkatan udara dengan frekuensi yang tidak menentu (tergantung kapan mereka ingin mengadakan latihan). Itu pun dengan biaya yang tidak sedikit untuk membayar sewa pesawat milik angkatan udara.

Tetapi saya harus mencobanya sebelum tidak mampu lagi, jadi saya kembali mencari2 alternatif & menemukan olahraga paralayang/paragliding. Olahraga ini sudah sering saya lihat di Puncak, Bogor sewaktu masih berdomisili di Jakarta namun sekedar kagum saja melihatnya (but life is not a spectator sport).

Belakangan saya semakin antusias sebab berbeda dengan sky diving yang merupakan descending parachute (alias hanya bisa melayang turun), paralayang adalah satu-satunya olah raga terjun payung yang menggunakan ascending parachute sehingga kita bisa berlama-lama di angkasa dengan memanfaatkan tenaga angin yang menerpa punggung bukit (soaring) atau udara panas yang menguap ke atas akibat panas matahari (thermaling).

Yang kedua, paralayang ternyata lebih aman sebab kita tidak perlu melompat dari pesawat dengan kondisi payung belum mengembang, melainkan cukup dari punggung bukit yang landai dimana parasut meski masih menguncup namun diletakkan di tanah & dikembangkan dengan cara seperti menaikkan layang-layang sehingga apabila kita gagal maka resiko terburuk adalah mendapati diri kita terjerambab di punggung bukit mencium ibu pertiwi (terus terang rasanya tidak seenak cipika-cipiki dengan mama).

Apabila payung sudah berhasil mengembang maka angin yang meniup punggung bukit akan memberikan daya angkat kepada tubuh kita melalui bantuan “layang-layang raksasa” yang berada di atas kepala kita (pada lokasi2 yang berada di sepanjang garis khatulistiwa seperti kota Palu, proses take-off malah lebih mudah sebab dapat dilakukan di tanah biasa yang datar karena panas matahari akan menciptakan kolom udara yang menguap ke atas untuk menggantikan tenaga angin seperti layaknya balon udara tempo doeloe).

Bagaimana dengan biayanya? Relatif tidak terlalu mahal sekitar 7 juta-an yang terdiri dari:

1.Bayaran pelatih

2.Sewa peralatan untuk 40x penerjunan & radio komunikasi dua arah/walkie talkie untuk mendengarkan panduan dari pelatih selama take-off, flying & landing (di luar transportasi menuju lokasi penerjunan dengan menggunakan kendaraan pribadi bahkan naik angkot/ojek sebab parasut dapat dilipat & dimasukkan ke dalam ransel)

Adapun peralatan paralayang terdiri dari:

1.Parasut yang terbuat dari material seperti yang sekarang digunakan oleh jaket olahraga namun dirancang mengikuti prinsip2 aerodinamika sayap pesawat terbang agar dapat naik ke atas dengan memanfaatkan tenaga angin. Bentuknya seperti kantung yang tertutup namun pada bagian depan berlubang sebagai jalan masuknya angin agar dapat mengembang berbentuk sayap. Desain ini sangat praktis jika dibandingkan layang gantung/hang gliding sebab sayap tiruan ini dapat dikempeskan & dilipat menjadi ukuran kecil sehingga bisa dimasukkan ke dalam ransel (harga parasut ini mendekati 20 juta jika kita ingin memilikinya pribadi).

2.Ransel yang ukurannya sedikit lebih besar dari ransel pada umumnya & berfungsi untuk meyimpan parasut sekaligus sebagai tempat duduk sewaktu mengangkasa serta pelindung apabila kita terjatuh ke belakang saat take-off maupun seandainya jatuh terduduk saat landing. Harganya sekitar beberapa juta & memiliki bantalan yang empuk di dalamnya seperti sofa.

3.Radio komunikasi dua arah  (tidak teralalu dibutuh jika kita sudah cukup percaya diri untuk terbang mandiri & bersedia bertanggung jawab atas keselamatan/resiko terhadap diri sendiri)

4.Helm untuk melindungi kepala dari kemungkinan terantuk (beli sendiri jika tidak bersedia kepala bau menyan menggunakan helm bagi-pakai dari pelatih. Model terbaik seperti helm yang dipakai oleh pengendara motocross).

5.Sepatu untuk menghindari cedera mata kaki misalnya sepatu gunung (ideal) atau sepatu basket

6.Celana panjang seperti jins, kaos lengan panjang & sarung tangan yang tidak mudah sobek untuk melindungi kita saat terjatuh serta terhadap hawa dingin saat di angkasa (masker kain untuk muka serta kaca mata hitam sebagai tambahan, khususnya wanita sebab di angkasa terik matahari langsung membakar wajah dijamin membuat anda menjadi dakocan dalam sekejap).

Selama di udara kita akan disuguhi pemandangan spektakuler yang selama ini hanya bisa dinikmati melalui jendela pesawat plus merasakan secara langsung belaian dari alam berupa hembusan angin sejuk serta deru angin yang dahsyat.

Sulit untuk menggambarkan secara lengkap bagaimana rasanya bergantung di angkasa tanpa mengalaminya sendiri (ibarat menyaksikan sebuah film yang meski sangat realistis tapi kita tahu bahwa itu bukanlah kenyataan) tetapi sensasinya kira-kira mirip dengan yang dinikmati oleh para bikers, bedanya kita menunggang motor di udara tanpa keramaian & ada momen keheningan dimana kita tidak perlu kuatir akan apa pun yang berada di depan sebab terdapat ruang sangat lapang yang seolah2 membuka tangannya & senantiasa memberikan jalan padahal kita hanyalah sebuah titik kecil di langit & hanya bergantung pada beberapa utas tali (meditasi di langit).

Arah terbang dikendalikan dengan 2 buah handle yang berada di tali sebelah kiri & kanan parasut. Bagi yang pernah mencoba parasailing tentunya memahami prinsip kerja handle tersebut yaitu ditarik ke kiri jika ingin berbelok ke kiri (atau sebaliknya) & tarik kedua-duanya apabila sudah mendekati daratan/landing.

Untuk mengangkasa lebih tinggi maka kita harus mencari kolom udara panas (thermal) yang sayangnya tidak kasat mata & sementara hanya burung2 yang secara alamiah sensitif terhadap thermal, seperti burung elang yang dapat berputar-putar ke atas tanpa perlu mengepakkan sayapnya (teknik terbang dengan memanfaatkan tiupan angin di punggung bukit/soaring tidak bisa memberikan ketinggian melebihi bukit itu sendiri).

Namun ada sebuah alat yang bernama variometer dengan bentuk seperti gps portabel & akan memberikan bunyi peringatan apabila kita berbenturan dengan kolom udara panas sehingga kita tinggal menarik salah satu handle untuk berputar ke atas layaknya burung elang hingga mencapai ketinggian yang kita inginkan (bagi penerbang-penerbang yang sudah berpengalaman, tubuh mereka bisa beradaptasi untuk menjadi sensitif tanpa perlu menggunakan variometer lagi seperti layaknya burung2 di angkasa).

Bagaimana jika kita ingin menurunkan ketinggian? Cukup dengan menjauh dari punggung bukit atau keluar dari kolom thermal & secara otomatis kita akan melayang turun akibat gravitasi (fungsi payung paralayang berubah menjadi payung sky diving).

Meski menurut saya pribadi paralayang sangat aman namun ada beberapa hal yang perlu dipatuhi sebab jika tidak, maka pengalaman bermeditasi di langit bisa berubah menjadi bertemu sungguhan dengan sang Pencipta x-P.

Yang pertama tentunya adalah cuaca, dimana kecepatan angin haruslah moderat seperti hembusan angin yang sepoi2 (atau untuk mengetahuinya bisa menggunakan alat yang bernama meteran angin/windmeter).

Berikutnya take-off & landing harus berlawanan dengan arah angin untuk menjaring angin supaya payung bisa mengembang dengan cukup. Umumnya di tempat take off maupun landing disediakan petunjuk untuk melihat arah angin berupa kaos angin/windsock (atau bisa juga dengan mengamati tanda-tanda alam seperti arah asap, goyangan pohon dsb).

Jangan sekali-kali meneruskan terbang apabila cuaca memburuk misalnya angin mendadak menjadi ganas atau hujan mulai turun sebab payung paralayang tidak dirancang untuk menahan beban air seperti sayap pesawat terbang yang padat serta tidak memiliki tenaga mesin untuk melawan hembusan angin yang terlalu kencang. Apabila hal-hal tersebut terjadi ketika sedang berada di udara maka segera lakukan pendaratan.

Cukup banyak yang masih ingin saya ceritakan tapi tidak terasa tulisan ini mulai terlalu panjang, namun olahraga ini membantu menumbuhkan rasa cinta saya terhadap angkasa di mana Tuhan bersemayam?

Nah, bagi yang tertarik dapat menghubungi salah satu pusat pelatihan paralayang berikut ini: Fly Indonesia Paragliding di Sentul-Bogor dengan Bapak Nixon melalui 0818 491472.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: