EVOLUTION

Pada abad pertengahan, radio atau listrik belum ditemukan sehingga untuk mendapatkan berita serta penerangan orang-orang memperolehnya melalui surat kabar & lampu minyak.

Seorang yang bernama William Gilbert pada abad ke 15 menemukan fenomena listrik setelah memperhatikan seekor mahluk yang mampu mengeluarkan kejutan listrik yaitu belut listrik (belut listrik sudah ada sejak dulu namun tidak ada orang yang tertarik untuk mengamati fenomena yang dimilikinya). Jadi bukan Benjamin Franklin mantan presiden AS pada abad ke 17 yang menemukan fenomena listrik melalui layang-layang yang terkena petir, beliau hanya menemukan bahwa petir pun mengandung listrik.

Gilbert juga menemukan fenomena magnet, bukan dalam bentuk besi sembrani melainkan menyadari ada sesuatu yang menggerakkan potongan besi atau jarum di dalam sebuah kompas (kompas sudah ada terlebih dahulu namun hanya digunakan sebagai petunjuk arah & tidak ada orang yang memikirkan fenomena dibalik bergeraknya jarum tersebut yaitu gaya magnet bumi yang sudah ada sejak dunia dijadikan).

Abad ke 18 lahirlah seorang jenius otodidak bernama Michael Faraday yang dikenal sebagai salah satu fisikawan eksperimentalis terbaik (beliau tidak pernah mendapatkan pendidikan resmi fisika melainkan semata-mata menemukannya melalui trial & error). Saat itu besi sembrani dari alam juga diketahui memiliki gaya magnet seperti bumi, karena mampu menggerakkan batang kompas. Faraday melakukan eksperimen & menemukan ketika sebuah gulungan kawat digerakkan pada besi sembrani maka timbul kejutan listrik pada kawat tersebut! (berlawanan dengan pengetahuan umum bahwa listrik ditemukan Thomas Alva Edison, sesungguhnya Edison hanya menemukan cara mengaplikasikan listrik sintetik penemuan Faraday ke dalam bentuk bohlam).

Tidak lama berselang lahirlah seorang jenius fisika teoritis yang bernama James Maxwell. Beliau inilah yang mempelajari hasil eksperimen Faraday kemudian menuliskannya dalam bentuk rumus fisika listrik secara matematis sehingga mudah dipahami serta disebar luaskan dengan cepat melalui sekolah-sekolah.

Lebih lanjut beliau menyadari bahwa efek magnet yang menciptakan listrik pada gulungan kawat tersebut tentunya harus melewati sesuatu, meski secara kasat mata tidak ada apa-apa diantara kawat & magnet tersebut selain ruang kosong. Mesti ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang & diberinya nama medan elektromagnetik. Dengan demikian seluruh ruang tentunya diisi oleh medan ini termasuk ruang angkasa. Beliau juga berhasil membuktikan secara matematis bahwa cahaya matahari pun harus melewati medan elektromagnetik agar bisa sampai ke bumi.

Awal abad ke 19 seorang jenius lain bernama Guglielmo Marconi menyadari teori Maxwell bahwa jika cahaya matahari saja yang demikian jauhnya bisa sampai ke bumi sekejap mata dengan menumpang medan elektromagnetik, maka tentunya suara atau bunyi juga dapat tiba ke suatu tempat dengan metode yang sama! Beliau kemudian mengaplikasikan teori Maxwell dengan mengembangkan alat yang diberi nama radio untuk mengirimkan suara/bunyi menumpangi medan elektromagnetik, meski pada waktu itu dianggap orang gila serta ditertawakan.

Prinsip kerja radio kuno buatannya pada waktu itu belum berupa suara melainkan bunyi Morse, yaitu setiap huruf diwakili nada yang berbeda misalnya huruf A bunyinya pendek-panjang, B pendek-panjang(3x) dan seterusnya. Setiap huruf memiliki nada khas & Marconi menerapkannya dalam bentuk kejutan listrik misalnya mati-hidup atau mati-hidup(3x). Kejutan listrik khas yang mewakili setiap huruf tersebut (sinyal) disalurkan ke antena yang berfungsi untuk mengumpulkan sinyal-sinyal ke dalam bentuk sebuah getaran/frekuensi (transmitter) kemudian diteruskan ke medan elektromagnetik.

Untuk mendengarkan bunyi tersebut di tempat lain  maka prosesnya dibalik yaitu ada antena yang disebut receiver yang bisa memilih getaran/frekuensi tertentu (tuning) & ikut beresonansi pada getaran yang sama sewaktu menerimanya serta mengumpulkan kejutan listrik khas (sinyal) untuk diterjemahkan menjadi nada yang mewakili huruf tertentu.

Nah, sekarang apa hubungannya evolusi penemuan-penemuan positif yang mengubah nasib manusia dengan pikiran?

Ternyata pikiran adalah sinyal dari otak yang bekerja mengikuti kaidah yang sama sebab sesungguhnya otak adalah antena transmitter sekaligus receiver (transceiver) berdasarkan penelitian yang dilakukan Alexander Graham Bell (penemu telepon yang mengembangkan penemuan Marconi, dimana pengiriman gambar bergerak TV termasuk telepon wireless juga dimungkinkan berkat jasa Marconi).

Manusia memiliki kemampuan untuk menyetel otaknya agar hanya memikirkan gambaran positif atau sebaliknya melakukan tuning terhadap pikirannya hanya untuk menerima hal-hal positif.

Namun kenyataannya orang kebanyakan tidak menyadarinya & membiarkan dirinya memikirkan hal-hal buruk sehingga orang-orang disekitarnya kemudian ikut beresonansi tanpa menyadarinya akibat menerima getaran/frekuensi negatif tersebut lalu ikut menjadi berpikiran negatif. Kemudian mereka terheran-heran mengapa hal-hal buruk terjadi padahal merasa tidak mengatakan sesuatu atau melakukan apa-apa.

Sebaliknya jika anda tidak suka mendengar atau melihat sesuatu, segera ubah frekuensi negatif tersebut dengan mencari hal-hal yang membuat anda bahagia misalnya mendengarkan musik (seperti halnya kita bisa memilih mendengarkan siaran perceraian selebritis di radio & mengubahnya segera dengan berita perkawinan, atau mendengarkan siaran peluang bisnis daripada berita kebangkrutan bukan?).

Putuskan apa yang ingin diterima dalam kehidupan ini & jangan gonta-ganti “frekuensi” apalagi main-main dengan “antena”nya, saya jamin pasti hasilnya kresek-kresek (kadang untung kadang rugi atau bisa-bisa kawin cerai).

Bagaimana jika kita sudah memancarkan gambaran positif namun pihak lain belum juga menerimanya setelah sekian lama? Apabila sinyal positif kita tidak lebih kuat dari frekuensi negatif pihak lain maka cara paling efektif adalah melalui doa (Tuhan memiliki transceiver terhebat sehingga sinyal kita dalam bentuk doa mampu diterimaNya untuk dipancarkan kembali ke seluruh manusia dengan kekuatan tanpa batas).

Siapa bilang nasib tidak bisa berevolusi menjadi positif?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: