Pesan Bill Gates, Pesan dari India

 

SHUTTERSTOCK

Bill Gates

Rabu, 29 Juli 2009 | 04:58 WIB

Oleh Ninok Leksono

KOMPAS.com-Besar kekayaannya, banyak kiprahnya, dan banyak pula penghargaannya. Itulah sosok salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates. Yayasan yang ia dirikan bersama istrinya, Bill and Melinda Gates Foundation, pekan silam dianugerahi The Indira Gandhi Prize for Peace, Disarmament, and Development atas jasanya secara aktif ikut memberantas HIV/AIDS di India (Times of India, 23/7).

Akan tetapi, di luar aktivitas yayasan yang ia pimpin, Gates tetap hadir dengan ciri khasnya, yaitu sebagai sosok terkemuka di bidang teknologi informasi (TI). Karena itu pula, ia punya pesan khusus bagi India, yang baik pula kita simak.

Di New Delhi, Gates menyerukan kepada Pemerintah India untuk meningkatkan komitmennya terhadap penelitian dan pengembangan (litbang) dan juga menambah jumlah mahasiswa PhD lokal yang masih sedikit.

Berbicara dalam satu diskusi panel, Gates mengatakan, “riwayat kesuksesan TI” India harus dilanjutkan, tetapi dengan menambah nilai dan beranjak dari tenaga kerja murah. Ini karena negara-negara berkembang lain tengah menyusul.

“Mula-mula beberapa (dari kesuksesan/boom TI) dibangun dari tenaga kerja berbiaya murah. Dan, tentu saja, seiring dengan berjalannya waktu, Anda tentunya tidak ingin hanya punya itu sebagai satu-satunya pembeda (differentiator) bukan, dan itu memang hal yang tidak berkelanjutan, karena pihak lain juga menghasilkan hal serupa,” ujarnya.

Sekadar catatan, sektor litbang India dalam beberapa tahun terakhir memang tumbuh pesat dan menarik perhatian perusahaan asing besar, tidak terkecuali Microsoft, dalam menikmati boom ekonomi berbasis teknologi informasi.

Hanya saja, seperti dikutip Reuters (24/7), akibat masih kurangnya komitmen pemerintah dan masalah struktural, litbang India masih tertinggal dibandingkan dengan AS dan China sebagai pesaingnya dari Asia. China punya 1.100 pusat litbang, sementara India hanya di bawah 800.

Bill Gates mengakui, perusahaan besar India banyak memberikan sumbangan ide dan teknik, tetapi masih banyak lagi yang bisa dilakukan agar semua potensi yang ada di India bisa dikembangkan sepenuhnya.

Komitmen universitas di atas, menurut Gates, memang perlu diwujudkan dalam keluaran PhD India. Kini, setiap tahun India hanya menghasilkan 100 PhD dalam sains komputer, dan itu lebih sedikit dibandingkan dengan AS dan China. Padahal, India diketahui banyak mengirimkan mahasiswa dalam jumlah besar ke luar negeri.

Mengenai dukungan dari pemerintah, disebutkan bahwa Pemerintah India memberikan tunjangan lebih sedikit kepada para peneliti dibandingkan dengan yang diberikan China. Sementara itu, di China, yang sebagian besar kebutuhan lebih mahal, insentif justru lebih besar. Beijing menawarkan keringanan pajak bagi pusat litbang, dan zona-zona ekonomi khusus menyediakan infrastruktur bagi industri teknologi tinggi dan litbang (Economic Times-India Times, 26/7).

Kapal selam nuklir

Masih terkait dengan pencapaian India di bidang (rekayasa) teknologi, hari Minggu (26/7) India meluncurkan kapal selam bertenaga nuklir pertamanya. Itu prestasi besar karena sebelum India hanya ada lima negara di dunia yang mampu membuat kapal selam bertenaga nuklir, yakni AS, Rusia, Inggris, Perancis, dan China.

India rupanya berhasil menginternalisasi desain kapal selam nuklir yang disewanya bertahun-tahun dari Rusia, dan itu mereka wujudkan dalam kapal selam Arihant (Penghancur Musuh, dalam bahasa Hindi) yang panjangnya 367 kaki (111,86 meter).

Seperti dikutip harian The New York Times (26/7), India membuat kapal itu sebagai bagian dari upaya luas untuk membangun militer yang sepadan dengan postur global India yang makin besar.

Para pejabat India menyebutkan, Arihant bisa mengangkut senjata nuklir. Namun, Perdana Menteri Manmohan Singh yang hadir dalam peluncuran di kota pelabuhan Vishakhapatnam menegaskan, kapal itu dibuat tidak untuk mengancam tetangga India.

Di luar aspek militer, apa yang dicapai India dalam pembuatan kapal selam nuklir memang amat besar. Kita bisa membayangkan, insinyur India harus mengkaji secara mendalam desain kapal selam nuklir yang rumit, seperti dari kapal selam Kelas-Akula I milik Rusia. Setelah itu, India harus mengadaptasikan reaktor air bertekanan yang teknologinya telah dikuasai, tetapi bagaimana agar ukurannya bisa pas dengan ukuran lambung kapal selam, jelas merupakan tantangan teknik tersendiri. India bisa menyelesaikan masalah ini karena punya fasilitas nuklir The Indira Gandhi Centre for Atomic Research di Kalpakkam, di Negara Bagian Tamil Nadu.

Jawaban India

INS Arihant yang dibangun melalui proyek Advanced Technology Vessel Programme telah menelan biaya 2,9 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 30 triliun. Dari sisi kemampuan, memang dengan kapal selam ini, India akan terus menguasai jalur perkapalan dan Samudra Hindia dan Laut Arabia.

Namun, tetap juga biaya sebesar itu telah membuat mereka yang bekerja di badan-badan pembangunan mengernyitkan mata. Seperti dicatat Financial Times (8/7), sejumlah pihak berpendapat, dana sebesar itu sebenarnya lebih baik dibelanjakan untuk program penghapusan kemiskinan.

Namun, rupanya pemikiran mengenai keselamatan dan kelangsungan hidup India— seperti telah dibuktikan selama ini—dapat mengungguli pandangan yang profokus pada upaya penghapusan kemiskinan.

Tradisi ini terus terpelihara, dari era PM Nehru pada tahun-tahun awal India hingga sekarang ini. Rupanya, menyangkut program pertahanan, juga program antariksa, dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, politisi India bisa bersikap beyond politics dan lebih mengutamakan kepentingan negara.

Dengan itu, bangsa India termasuk yang paling maju dalam teknologi dan rekayasa militer. Karena pesaing juga maju dengan derap tinggi, di bidang teknologi sipil yang didominasi oleh TI (dan K, komunikasi), India kini sedang ditantang oleh Bill Gates untuk berlomba dengan China.

Kita perlu becermin dari apa yang selama ini ditempuh India. Ada sejumlah kritik dan kelemahan dalam proyek militer India, tetapi ide dasarnya, yang kaya akan semangat “memajukan kemampuan sendiri”, amat menggugah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: