DRUCKER, SANG NABI TELAH PERGI

 (Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Alberto Daniel Hanani di
Majalah SWA No. 25/XXI/8-18 Desember 2005)

JOHN MICKLEWAIT dan Adrian Woolridge, dalam bab tiga buku mereka
yang berjudul The Witch Doctors: Making Sense of Management Gurus,
menjuluki Peter Ferdinand Drucker sebagai nabi penyebar ajaran
manajemen atau guru dari para guru manajemen modern. Ironisnya, Tom
Peters – dai manajemen kondang yang menjadikan manajemen sebagai
sebuah seni panggung pertunjukan – selama masa belajarnya sampai
menjadi Ph.D tidak pernah sekali pun membaca langsung tulisan
Drucker. Padahal Tom mencatat bahwa: “He was the creator and
inventor of modern management… Our debt to Peter Drucker knows no
limit.”

KARENA ITU TIDAK LAH ANEH, banyak ahli manajemen di Indonesia yang
bahkan tidak tahu bahwa Peter Drucker – sang nabi – telah
mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang, pada 7.30 pagi di hari
Jumat, 11 November 2005 (8 hari sebelum HUT-nya ke-96) di rumahnya
di Claremont, California. Padahal, Drucker – yang lahir di Wina,
Austria pada 19 November 1909, memperoleh gelar doktor di bidang
hukum publik dan internasional dari Universitas Frankfurt pada umur
22 tahun, menikah dengan Doris Schmitz di tahun 1939 dan dikaruniai
empat anak – telah meninggalkan begitu banyak warisan bagi dunia
manajemen sepanjang masa.

Drucker menulis buku sejak 1937 (The End of Economic Man) dan
mempopulerkan konsep desentralisasi di era 1940-an. Pada dasawarsa
1950-an ia mempropagandakan gagasan bahwa:

(1) Sumber daya manusia (SDM) adalah asset perusahaan, bukan
liabilitas;
(2) Perusahaan bukanlah mesin penghasil laba melainkan komunitas
manusia produktif yang dibangun atas dasar kepercayaan (trust) dan
respek;
(3) Tanpa konsumen tidak ada bisnis.
Pertengahan 1960-an, ia telah mengajarkan betapa pentingnya sistem
manajemen (dibandingkan dengan sekadar kepemimpinan karismatis),
jauh sebelum kata “sistem” menjadi buzzword di dunia pendidikan
manajemen.

SEJARAH JUGA MENCATAT Drucker sebagai seorang penyendiri yang tidak
pernah memiliki sekretaris tetap, baik selama masa kerjanya sebagai
guru besar di NYU Stern (1950-1971), maupun setelah menjadi clark
professor ilmu sosial di Claremont Graduate School, Califoria
(sampai akhir hayatnya). Kendati demikian, ia adalah seorang penulis
yang sangat produktif hingga hari terakhirnya, dan salah satu
bukunya yang paling memberi pengaruh pada displin manajemen adalah
The Practice of Management (terbitan tahun 1954). Ia telah
mempublikasikan 38 buku yang sebagian diterjemahkan paling tidak ke
dalam 37 bahasa asing; menulis berbagai isu bisnis dan sosial secara
rutin di berbagai media massa seperti Wall Street Journal, majalah
bisnis Forbes, dan lain-lain.

PERHATIAN DRUCKER sebetulnya jauh melampaui bidang manajemen, dan
perspektifnya lebih terpusat pada soal-soal kemanusiaan.
Pemikirannya sibuk bukan hanya dengan kenyataan zamannya, seperti
kewirausahaan (entrepreneurship), tetapi juga dipadati pemikiran
untuk menjawab tantangan masa depan yang bahkan oleh banyak kalangan
di zamannya dianggap terlalu mengada-ada, seperti: knowledge worker
productivity pada 1970-an. Ia memang dikenal sebagai seorang yang
berpikiran jauh ke depan sejak masa mudanya, sebagaimana ditunjukkan
dalam sikapnya menentang Nazi di tahun 1927 – tatkala masih berumur
18 tahun. Ia segera pindah ke London setelah Hitler menjadi
Kanselir, dan selanjutnya sejak 1937 menetap di Amerika Serikat –
toh, sampai meninggalnya pun, ia memiliki aksen Austria yang sangat
kental.

MESKIPUN NUANSA KEHIDUPAN Drucker yang begitu luas menyimpan banyak
misteri, satu konsep yang tak akan lekang dimakan zaman dan akan
selalu dikenang para management scholar adalah tulisannya mengenai
Management by Objective. Bahkan perangkat analisis baru di dunia
manajemen yang populer di awal abad 21 ini, seperti: Balance
Scorecard yang dipopulerkan Kaplan dan Norton merupakan bukti
langgengnya pemikiran Drucker dalam dunia praktik manajemen. Tulisan
Drucker yang berjudul Business Objectives and Survival Needs: Notes
on a Discipline of Business Entreprise (The Journal of Business,
April 1958, halaman 81), menjelaskan dengan gamblang bahwa tujuan
perusahaan bukanlah sekadar memaksimalkan laba melainkan bersifat
multidimensional, dan berbagai tujuan yang tampaknya saling
bertentangan haruslah mendapat perhatian manajemen secara seimbang
sehingga perusahaan bisa bertahan hidup dalam jangka panjang.

MENJELANG AKHIR HIDUPNYA, Drucker lebih menunjukkan minatnya pada
manajemen organisasi sosial, seperti pramuka dan gereja – ketimbang
organisasi bisnis. Karena itu Rick Warren (penulis buku best-seller:
The Purpose Driven Life) menyatakan: “Drucker mengajarinya bahwa
peran manajemen di dalam gereja adalah untuk menjadikan gereja lebih
churchlike, dan bukan menjadikannya businesslike. Bisnis bagi
Drucker hanyalah sebuah titik berangkat yang menyediakan platform
bagi dirinya untuk mempengaruhi para pemimpin, mulai dari pemimpin
negara sampai pemimpin umat, mulai dari pemimpin perusahaan sampai
pemimpin organisasi kemasyarakatan lainnya.

SATU CATATAN KECIL untuk mengenang Drucker yang ditulis para
sahabatnya adalah ia kerap kali membuat berbagai “kesalahan dan
kekeliruan” di dalam tulisannya yang kurang akurat (yang bagi dunia
akademis sering dianggap sebagai tulisan non ilmiah atau populer),
dan Drucker tidak pernah mengingkari hal itu. Bahkan ia mengatakan
bahwa dirinya bukanlah guru, melainkan hanya a student of life.

AKHIRNYA, PARA PEMIMPIN BISNIS Indonesia masa kini dan masa depan,
perlu rasanya kita menyimak dengan cermat kata-kata Drucker dalam
Keynote Address-nya pada peringatan anniversary 50 tahun The Academy
of Management di Chicago, Illinois 14 Agustus 1986: “The success of
management has not changed the work of management, but it has
changed its meaning. Its success had made management the general,
the pervasive function and distinct organ of our society of
organizations. As such, management inevitably has become affected
with the public interest. To work out what this means for management
theory and management practice will constitute the management
problem of the next 50 years.”

*********************************

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: