TRUTH PART 1

November 28, 2012

Pernah mendengar cerita tentang pengalaman spiritual? Saya sendiri memilikinya, entah itu dapat disebut demikian atau tidak namun begini ceritanya:

Sejauh yang dapat saya ingat, sejak kecil saya selalu percaya akan adanya Tuhan. Setiap kali mata ini memandang ke sekeliling & melihat tumbuhan, hewan, alam → keyakinan tersebut senantiasa ada di dalam benak saya.

Kepercayaan tersebut semakin bertambah melalui pengaruh yang saya dapatkan di dalam keluarga, meski sekedar mengikuti langkah kakak2 yang terlebih dulu memeluk salah satu agama monoteis & melalui bangku sekolah SMP serta SMA yang didirikan oleh aliran agama tsb.

Di awal tahun ini seorang kakak yang telah berpindah memeluk salah satu mazhab dari agama yang dianut oleh keluarga,  menawarkan untuk berdakwah kepada saya.

Pada awalnya saya tidak terlalu antusias berhubung alirannya berbeda sendiri & disertai arogansi, merasa sudah cukup lama mengetahui tentang aliran agamanya yang garis besarnya sepertinya tidak berbeda jauh dengan keyakinan keluarga selama ini.

Namun saya menganut prinsip Voltaire, filsuf terkenal Prancis bahwa suka atau tidak terhadap seseorang, yang bersangkutan berhak untuk mengemukakan pendapatnya (kisah tentang Voltaire ini saya dapatkan di salah satu buku favorit saya sejak dulu yaitu 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah karangan Michael H. Hart & merupakan buku yang sangat berguna nantinya di dalam melengkapi pengalaman spiritual tsb)  Link -> http://100tokohsejarah.wordpress.com)

Kakak saya membawa seorang pendeta yang mengupas cerita tentang seorang nabi bernama Daniel khususnya tentang sebuah mimpi yang unik -> bukan sembarang mimpi karena yang mengalaminya adalah Nebukadnezar, seorang pelaku sejarah yang merupakan raja Babilon atau Babel & pernah hidup sekitar tahun 600 SM (terlepas dari sang nabi apakah seorang tokoh fiktif atau bukan, fakta sejarah membuktikan bahwa memang Nebukadnezar adalah tokoh yang pernah hidup memerintah kerajaan Babel).

Mimpinya sendiri sementara silahkan dianggap sebagai dongeng semata-mata bagi yang skeptis, namun sangat menarik untuk disimak (juga berkat bakat yang luar biasa dari pendeta tsb di dalam menceritakannya) sebab menurut saya menunjukkan kualitas Nebukadnezar sebagai seorang yang memang pantas menjadi raja karena kecerdasannya.

Alkisah sang raja mendapatkan sebuah mimpi yang membuatnya sangat penasaran sehingga dipanggilnya seluruh dukun, tukang ramal, orang pintar & paranormal dari segenap penjuru kerajaannya untuk menjelaskannya.

Tapi sejak dulu Nebukadnezar sudah merasa bahwa segenap orang-orang yang disebutkan di atas tidak lebih dari penipu & pembohong yang sebetulnya tidak tahu apa-apa, jadi untuk menguji teorinya raja meminta pembuktian terbalik yaitu menantang para peramal tersebut untuk menceritakan terlebih dulu apa mimpinya baru kemudian tafsirnya jika mereka sungguh2 hebat!

Seluruh peramal & orang pintar yang ada berkata bahwa jika demikian syarat yang diminta sang raja maka tidak ada satu orang pun di muka bumi yang mampu menafsirkannya sebelum mimpi tersebut diceritakan terlebih dahulu (sebuah argumen yang sangat masuk akal bukan? Sepertinya permintaan Nebukadnezar adalah permintaan seorang yang mengada-ada tetapi menurut saya merupakan sebuah pemikiran yang membuktikan kecerdasan dari sang raja).

Nebukadnezar meluap kemarahannya karena merasa itu membuktikan teorinya bahwa selama ini seluruh peramal & orang pintar tersebut memang hanya penipu sehingga menyuruh mereka dipenggal seluruhnya.

Namun ada seorang Yahudi bernama Daniel yang hidup di jaman Nebukadnezar & sesungguhnya merupakan orang jajahan karena negaranya ditaklukkan serta dirinya dibawa ke Babel sebagai tawanan tapi diperlakukan dengan baik berkat kecerdasannya sehingga tergolong sebagai orang pintar juga, jadi ikut terkena getahnya & harus dipancung.

Mendengar berita tersebut, Daniel menawarkan diri kepada Nebukadnezar untuk memberinya waktu memohon kepada Tuhannya agar ybs dapat menjawab tantangan raja tersebut (bagi yang NON-ATEIS, kisah ini dapat dibaca sendiri pada Taurat yaitu kitab Daniel bab 2, dimana pada bab pertama dijelaskan bahwa sang nabi merupakan orang yang takut akan Tuhan & sungguh2 mematuhi laranganNya).

Tuhan berkenan kepada Daniel & menyingkapkan mimpi dari sang raja berikut tafsirnya sehingga sang nabi bersyukur serta memuji kebesaranNya kemudian pergi menjawab tantangan Nebukadbezar.

Daniel berkata bahwa sungguh tidak ada satu orang pun di muka bumi yang dapat menceritakan mimpi dari sang raja, akan tetapi di surga ada Tuhan YMK yang mampu menyingkapkan rahasia apa saja.

Mimpi dari Nebukadnezar adalah tentang sebuah patung manusia raksasa yang berdiri dengan pongahnya:

  1. Dengan kepala yang terbuat dari emas
  2. Kemudian kedua lengan & tubuhnya dari perak
  3. Pinggangnya terbuat dari tembaga
  4. Namun tungkai kakinya dari besi dimana telapaknya beserta 10 jari-jarinya merupakan campuran dari tanah & besi serta akhirnya tanpa perbuatan manusia sebuah batu terlepas sendiri menimpa telapak kaki patung tersebut (yang merupakan campuran rapuh dari tanah & besi) sehingga hancur serta meruntuhkan seluruh struktur yang ada di atasnya.

Adapun tafsirnya adalah:

  1. Kepala tersebut merupakan Nebukadnezar dengan Babel sebagai kerajaannya yang praktis menguasai seluruh dunia untuk pertama kalinya (pada jaman itu, sekitar tahun 600 SM daerah jajahan Nebukadnezar meliputi wilayah kerajaan2 di benua Eropa, Afrika & Asia dimana benua Amerika serta Australia belum ditemukan)
  2. Kedua lengan & tubuh yang terbuat dari perak melambangkan 2 buah kerajaan berikutnya yang akan mengalahkan Babel → kedua kerajaan ini adalah Media & Persia dengan rajanya yang bernama Cyrus Agung, serta dapat dibuktikan fakta historisnya oleh buku karangan Michael H. Hart yang saya sebutkan di atas bagi yang SKEPTIS & secara mengesankan telah disampaikan dengan presisi nama kerajaan tersebut oleh Nabi Daniel sebelum berkuasa (kisah tentang kerajaan Media & Persia yang akan menaklukkan Babel dapat dibaca sendiri di dalam Taurat yaitu kitab Daniel bab 5 khususnya ayat 28) Link -> http://100tokohsejarah.wordpress.com/2009/10/24/cyrus-yang-agung/
  3. Pinggang yang terbuat dari tembaga merupakan kerajaan Yunani serta akan menundukkan dua kerajaan sebelumnya yaitu Media & Persia → fakta sejarahnya dapat dilihat kembali pada buku yang telah saya sebutkan & lagi2 secara mengagumkan sang nabi menyebutkan dengan akurat nama dari kerajaan ketiga ini, ratusan tahun sebelum rajanya sendiri lahir yaitu Alexander The Great yang sangat termasyur (kitab Daniel bab 8 khusunya ayat 21) Link -> http://100tokohsejarah.wordpress.com/2009/10/24/alexander-yang-agung/
  4. Tungkai kaki yang terbuat dari besi serta telapak & 10 jari-jarinya yang tercampur dengan tanah merupakan kerajaan terakhir yang akan menguasai dunia setelah mengalahkan Yunani namun akan diruntuhkan “oleh batu yang terguling sendiri tanpa perbuatan manusia” → ini satu-satunya kerajaan yang namanya tidak pernah disebutkan secara eksplisit oleh Daniel sehingga menimbulkan misteri, namun fakta sejarah menunjuk kepada imperium kerajaan Romawi yang berhasil mengalahkan kerajaan Yunani kuno.

Ketika Nebukadnezar selesai mendengarkan sang nabi, serta merta ybs langsung sujud menyembah serta mengakui Tuhannya Nabi Daniel sebagai satu-satunya Tuhan di atas segala tuhan karena memang seperti itulah mimpi yang dirahasiakannya!

Nah, bagi yang tetap merasa skeptis bahwa hari gini masih ada yang percaya Taurat padahal dongeng semata-mata meski telah didukung oleh bukti2 berupa fakta2 historis & yang merasa masih tersisa misteri pada tafsiran 10 jari-jari kaki khususnya “batu yang terguling sendiri tanpa perbuatan manusia & meruntuhkan satu per satu kerajaan-kerajaan yang berkuasa di dunia” akan saya lanjutkan pada kesempatan berikutnya.

(bersambung)

OUTDOOR CLIMBING

October 29, 2012

Sudah hampir dua tahun sejak melewati separuh kehidupan yang dianugrahkan Tuhan, saya justru terobsesi melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim di usia yang relatif sudah tidak muda lagi.

Sedikit banyak kegiatan-kegiatan ekstrim yang saya lakukan ini terinspirasi oleh film “The Bucket List” yang saya tonton saat menginjak usia 35 pada tahun 2010 yang dibintangi oleh Jack Nicholson & Morgan Freeman (mengenai dua orang kakek-kakek yang divonis tidak akan hidup lebih lama diakibatkan penyakit yang mereka derita & memutuskan untuk melakukan bersama hal-hal gila-gilaan di dalam hidup ini).

Di tahun 2012 ini, yang konon katanya kiamat, saya justru bersyukur karena Tuhan berkenan mengabulkan salah satu keinginan “gila” saya untuk melakukan panjat tebing setelah sekian lama tertunda, berikut ceritanya:

Satu-satunya organisasi di Indonesia yang mengadakan pelatihan panjat tebing adalah Skygers yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat & mereka hanya mengadakan pelatihan satu kali saja setiap tahun alias kesempatan yang langka (anda harus menunggu tahun depan jika melewatkan kesempatan pada tahun ini).

Saya sudah mengincar-incar pelatihan yang mereka adakan sejak tahun 2010 namun pada waktu itu terlanjur terselenggara di Bali & untuk event 2011 saya buru-buru booking jauh-jauh hari kepada panitia untuk memasukkan saya sebagai peserta.

Namun selang satu tahun menanti, ternyata Skygers sepertinya lupa untuk menghubungi saya pada waktu mereka mengadakan pelatihan panjat tebing tahun 2011 di bulan Oktober.

Kuciwa euy karena waktu yang terbuang sia-sia menanti padahal sudah booking jauh-jauh hari (tapi karena tidak ada alternatif lain sebab Skygers hanya satu-satunya sekolah panjat tebing yang ada di Indonesia) maka pada tahun 2012 saya memutuskan untuk mengganti strategi dengan berinisiatif/proaktif menghubungi panitia dari waktu ke waktu tanpa duduk berpangku tangan lagi menunggu kabar dari panitia.

Akhirnya setelah 2 tahun, strategi saya membuahkan hasil dengan terdaftar sebagai salah satu peserta Sekolah Panjat Tebing Angkatan XXVI 18~21 Oktober 2012 yang diadakan di Bandung.

Lokasinya di kawasan Padalarang, pegunungan kapur Citatah dengan spot bernama Tebing 125 dikarenakan ketinggiannya 125 m dari permukaan tanah & merupakan tempat latihan panjat tebing resmi milik Kopassus.

Adapun biaya yang dikeluarkan relatif murah sekitar Rp. 2,5 juta diluar peralatan pribadi yang wajib dibawa sendiri oleh peserta seperti:

1. Ransel/daypack untuk menyimpan jaket dsb, bisa diperoleh dengan harga di bawah 100 rb
2. Helm pengaman kisaran harga di bawah 100 rb (saya baru tahu saat pelatihan kalau ternyata ada yang model lipat sehingga menghemat tempat & otomatis ransel yang dibawa bisa lebih kecil sebab melakukan pemanjatan dengan ukuran ransel yang relatif besar tidaklah praktis)
3. Harness model duduk yang berfungsi sebagai penyangga tubuh sekaligus perantara dengan tali pengaman (kernmantle), harganya sekitar 500 rb-an

4. Carabiner berkunci berfungsi untuk menghubungkan harness baik dengan tali pengaman maupun alat pengaman (akan dijelaskan lebih lanjut di bawah), minimal 2 buah @ sekitar 200 rb-an merk Eiger


5. Webbing/Tali tubuh/Sling yang digunakan sebagai perpanjangan untuk menghubungkan alat pengaman & carabiner berkunci sekaligus untuk membuat Cowtail yaitu sling yang terhubung ke harness & carabiner berkunci untuk dicantelkan ke pengaman baik yang berupa tali maupun alat lain (di bawah 10 rb per m, minimal 5 m)

6. Tali prusik digunakan menciptakan gesekan/pengereman pada saat menuruni tebing agar tidak mendadak atau untuk menggantikan fungsi sling (di bawah 10 rb per m, minimal 1.5 m)

(dan perlengkapan lain khususnya celana training, head lamp & sarung tangan yang tidak sempat diinformasikan oleh panitia, saya tidak tahu kalau ternyata malam hari pun disuruh memanjat & tidak membawa head lamp sehingga agak kesulitan & memanjat menggunakan celana jins tidaklah nyaman → sempat saya ganti dengan celana pendek namun resikonya kedinginan serta lecet-lecet termasuk telapak tangan jika tidak menggunakan sarung tangan)

Hari pertama pelatihan dimulai dengan pengenalan alat pengaman yang dipasang ke tebing untuk menahan beban tubuh pemanjat beserta cara pemasangannya & cara menilai apakah pengaman tersebut sudah terpasang dengan sempurna atau belum (tidak bergerak ke segala arah)

Ada banyak jenis pengaman seperti yang dibor ke dalam tebing (paling aman tapi dianggap merusak alam) namun 3 alat pengaman esensial bagi Skygers adalah:

A. Pasak/Piton yang terdiri dari:
– Kingpin untuk digunakan pada lubang/celah sempit, dimana pengaman ini akan tersangkut & terjepit di dalam celah apabila dipukul menggunakan palu

(ket gbr: lubang yang ada pada setiap pengaman berfungsi sebagai cantelan carabiner dimana tali yang menghubungkan antara pemanjat yang satu dengan lainnya melewati carabiner tersebut)

– Angle digunakan pada lubang/celah yang lebih lebar & cara kerjanya mirip seperti vizer setelah dilesakkan ke dalam lubang menggunakan palu

B. Pengaman sisip atau Stopper yang terdiri atas:
– Simetris yang digunakan saat menjumpai lubang/celah yang menyempit ke bawah seperti huruf “V”, dimana pengaman ini cukup disisipkan ke dalam celah seperti namanya tanpa perlu dipalu (hemat tenaga)

(ket gbr: yang ditengah adalah Choker, alat cungkil untuk melepaskan Stopper dari lubang/celah)

– Asimetris atau Hexentric berfungsi sama seperti Stopper Simetris namun digunakan apabila salah satu sisi lubang tidak membentuk huruf “V” yang simetris sempurna

(ket gbr: tali prusik yang digunakan oleh Stopper di atas dapat langsung dihubungkan ke sling tanpa melalui carabiner karena sama-sama berbahan textil)

C. Sisip pegas atau Friend
– Rigid digunakan apabila menjumpai lubang/celah vertikal yang membentuk huruf “V” terbalik alias menyempit ke atas, dimana pengaman jenis ini akan mengembang & berfungsi seperti vizer apabila disisipkan ke dalam lubang/celah (kelemahannya, pengaman jenis ini wajib tergantung menjuntai sempurna ke bawah & tidak boleh terpasang miring sebab tidak didesain untuk menahan beban geser)


– Flexible berfungsi sama seperti yang Rigid dengan kelebihan dapat menahan beban geser sehingga dapat disisipkan ke dalam lubang/celah dengan posisi tidak mutlak vertikal

(Ada juga pengaman alam seperti pohon yang dapat dijadikan tambatan maupun batu berlubang yang tembus ke sisi lain sehingga dapat disisipkan sling dari ujung lubang yang satu ke ujung yang lain, ilustrasinya seperti memasukkan benang ke dalam lubang jarum).

Malam harinya kami diwajibkan untuk melakukan pemanjatan solo ke sebuah gua di dalam tebing setinggi 20 meter menggunakan tangan kosong! Sepertinya ini merupakan proses inisiasi dari Skygers bagi pesertanya agar berhak mendapatkan sertifikat.

Meskipun ada tali pengaman yang terikat pada harness sehingga aman apabila terjatuh namun saya sama sekali belum pernah melakukan pemanjatan setinggi itu menggunakan tangan kosong apalagi dengan permukaan tebing nyaris vertikal! (paling-paling hanya menyaksikan teman-teman melakukan panjat dinding sewaktu kuliah).

Singkat cerita, untung saya berhasil mencapai gua meskipun dibantu dengan aba-aba dari instruktur tentang lokasi-lokasi yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan (saran saya siapkan kondisi tubuh yang fit sebab saya semata-mata beruntung bisa sampai ke gua padahal jarang berolahraga).

Keesokan harinya kami mulai dilatih untuk melakukan pemanjatan dalam tim, bertiga yang memiliki tugas masing-masing sebagai berikut:

1. Leader → bertugas sebagai pemanjat pertama untuk memasang alat pengaman baik itu pasak, Stopper maupun sisip pegas & memastikan nilai keamanannya sempurna bagi pemanjat berikutnya

(ket gbr: tali yang menjuntai ke bawah menghubungkan Leader dengan pemanjat lainnya & terhubung ke harness masing-masing pemanjat yang akan ditambatkan pada alat pengaman apabila Leader memutuskan untuk beristirahat).

2. Belayer/Penambat → bertugas sebagai pemanjat kedua hanya sesudah melakukan tugas utamanya yaitu mengamankan pemanjat lain saat terjatuh baik itu Leader maupun pemanjat terakhir, dimana dirinya terhubung dengan tali pengaman terhadap pemanjat lain & menahan jatuhnya pemanjat lain dengan dibantu alat bernama Belay Plate yang menciptakan gesekan/pengereman terhadap tali pengaman sekaligus mengulur tali apabila dibutuhkan Leader untuk bergerak naik

(apabila Leader memutuskan untuk beristirahat setelah melakukan satu sesi pemanjatan atau yang disebut satu pitch maka fungsi penambat akan diambil alih olehnya untuk menahan kemungkinan jatuhnya pemanjat kedua, dalam hal ini Belayer)

3. Sweeper/Cleaner → berfungsi sebagai pemanjat terakhir untuk membersihkan alat-alat panjat baik itu alat pengaman, sling, carabiner dsb. Senjatanya adalah Choker yang berfungsi untuk mencungkil Stopper serta palu untuk melepaskan pasak yang ditanam oleh Leader ke dalam tebing & dirinya diamankan oleh Belayer dari kemungkinan jatuh setelah pemanjat kedua tersebut tiba di posisi pemanjat pertama.

(sebagai catatan: setiap sesi pemanjatan atau dimulainya pitch yang baru, ketiga orang tersebut dapat bertukar posisi sesuai kesepakatan & tentunya melihat kemampuan masing-masing anggota tim → apabila Leader kelelahan mungkin dapat menjadi Belayer atau Sweeper & sebaliknya)

Ketiga proses di atas diulang terus menerus dimulai dari awal pemanjatan hingga mencapai puncak sehingga menjadi beberapa sesi pemanjatan atau multi pitch (berhubung panjang tali yang dibawa relatif pendek sekitar 50 m saja padahal ketinggian tebing mencapai 125 m sehingga proses ini harus diulang-ulang)

Gua yang sebelumnya harus kami panjat menggunakan tangan kosong sekarang dicapai dengan menggunakan peralatan & keesokan harinya kami belajar melakukan Rappeling yaitu menuruni tebing menggunakan tali prusik dengan alat bantu yang bernama Descender

(keduanya untuk menciptakan gesekan/pengereman ganda terhadap tali pengaman agar turunnya tidak mendadak).

(ket gbr: Mapala UI Powerpuff Girl)

Malam hari ketiga kami kembali diwajibkan melakukan pemanjatan menggunakan tangan kosong setinggi 15 m namun relatif lebih mudah saya rasakan berhubung struktur tebing yang dipanjat membentuk cerobong sehingga punggung dapat disandarkan ke salah satu sisi & kedua kaki tegak lurus terhadap tubuh digunakan untuk merayap naik atau kedua telapak tangan & telapak kaki menyentuh sisi-sisi cerobong (seperti permainan memanjat dinding di rumah pada waktu kanak-kanak).

Setelah kami bangun sekaligus merupakan hari terakhir, dimulailah pemanjatan sesungguhnya menuju puncak dimulai dari cerobong & saya merasa cukup beruntung dapat sampai ke puncak mengingat pada satu titik saya hampir tidak dapat mengangkat tubuh ini ke atas namun ada seorang peserta mantan atlet panjat dinding yang membantu menarik tangan saya ke atas (selama sesi pemanjatan terus terang saya hanya mengambil posisi Belayer & Sweeper berhubung ini merupakan pemanjatan tebing saya yang pertama sehingga lebih bijaksana jika saya menyerahkan posisi Leader kepada anggota tim yang sudah lebih berpengalaman)

Melakukan panjat tebing setinggi 125 m bagi sebagian orang bukan lah apa-apa namun merupakan sesuatu yang sangat berkesan di dalam ingatan saya.

Sungguh mengasyikkan sensasi tergantung di ketinggian 100 m dari permukaan tanah (kira-kira setinggi Monas), duduk di harness sambil melihat pemandangan di bawah yang menumbuhkan kecintaan & rasa hormat terhadap alam khususnya tebing & Tuhan seperti motto penggagas panjat tebing Indonesia sekaligus pendiri Skygers, Bapak Harry Suliztiarto → Tebing, Tuhan & Aku (usia beliau 57 tahun namun masih aktif memanjat dengan fisik “still in shape”, amazing if you see him directly considering his age!)

Skygers adalah kegiatan yang sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang berjiwa petualang, selain tidak adanya organisasi lain lagi yang memberikan pelatihan panjat tebing seperti mereka.

Akhir kata dari saya, salam keterjalan!

BLOG SABat = SABtu?

March 10, 2012

Judul tulisan ini terkesan dangkal & seolah2 menggampangkan antara miripnya bunyi pengucapan hari Sabat dengan hari sabtu.

Saya pribadi sebetulnya kurang nyaman untuk menuliskan blog ini berhubung sejak awal memulai blogging saya sudah berjanji untuk membuat tulisan2 yang sifatnya universal & tidak menjurus ke agama.

Tetapi saya merasa ada sebuah “panggilan” sehingga nilai2 pribadi pun harus saya singkirkan!

Sejak dulu sewaktu masih kanak2, sudah timbul di dalam pikiran saya bahwa Sabat itu mungkin hari sabtu (berhubung miripnya bunyi pengucapan antara kedua kata tersebut).

Namun dari dulu juga saya sudah memahami secara intuitif bahwa kemiripan bunyi antara dua buah kata tidak dapat dijadikan dasar pembenaran untuk menghubungkan makna antara yang satu dengan yang lainnya.

Puluhan tahun berlalu & seperti kebanyakan orang2, saya telah menganggap & menerima bahwa Sabat itu adalah hari minggu.

Namun ketika salah seorang kakak saya berpindah memeluk agama Kristen sehingga menimbulkan kontroversi (berhubung beliau satu2nya di keluarga yang memutuskan untuk memeluk agama Kristen) maka saya merasa perlu untuk melihat sendiri gerejanya agar memperoleh pemahaman yang lebih obyektif daripada sekedar mengkritik berdasarkan bayangan yang ada di dalam benak semata2.

Kritikan tersebut timbul karena kakak saya semenjak memeluk agama barunya percaya bahwa hari sabtu adalah Sabat oleh sebab itu dia putuskan untuk beribadah pada hari tersebut & tidak bekerja.

Sebetulnya keyakinan atas hari Sabat tersebut belum menimbulkan kontroversi sengit namun berhubung pasangannya menganut kepercayaan yang lain & beranggapan bahwa hari Sabtu adalah hari kerja biasa maka yang bersangkutan merasa keberatan dengan perubahan tersebut apalagi setelah puluhan tahun berumah tangga!

Mereka memiliki usaha yang bergerak di perdagangan yaitu membuka beberapa buah toko & berhubung saya pernah memiliki toko, saya memaklumi kerepotan pasangannya jika kakak saya malah tidak bekerja pada hari sabtu (pemilik toko apa pun juga pasti mengetahui bahwa hari sabtu adalah salah satu hari yang terbanyak menerima kunjungan orang untuk berbelanja).

Ketika saya mendatangi gereja kakak saya, saya tercengang2 oleh sebuah fakta singkat yang dia tunjukkan di dalam Alkitab mengenai hari Sabat yang selama ini luput dari pengamatan saya sendiri setelah sekian lama!

Saya sendiri telah membaca Alkitab yang tebalnya ribuan halaman tersebut hingga selesai namun belum pernah menemukan satu kalimat pun yang secara eksplisit menunjuk Sabat ke hari tertentu (baik itu sabtu maupun minggu).

Nah, bagi pemeluk agama nasrani silahkan buka Alkitab pada bagian terakhir yaitu kamus & carilah kalimat: hari persiapan → yaitu hari sebelum hari Sabat, jadi hari jumat.

Dari fakta singkat tersebut, tidak membutuhkan pemikiran jelimet untuk menyadari hari apakah hari Sabat itu bukan?

Sebagai pemeluk salah satu aliran nasrani yang meskipun terbesar namun paling dicela oleh aliran2 lain bahkan oleh kakak saya sendiri..he..he (berhubung sejarahnya pada abad pertengahan dimana kekuasaannya sangat besar tanpa adanya oposisi sehingga menjadi korup) maka uji silang mengenai hari Sabat saya rujuk kepada seorang kawan dari aliran Protestan yang paling diakui sebagai pelopor utama reformasi di dalam agama nasrani.

Saya terheran2 ketika mendengarkan bahwa Sabat yang dia ikuti adalah hari minggu berdasarkan perhitungan bahwa hari pertama di dalam kalendar adalah hari senin maka hari ketujuh jatuh pada hari minggu (agama nasrani mempercayai bahwa hari ketujuh adalah Sabat).

Yang mebuat saya terheran2 justru bukan karena hari Sabat yang dia akui adalah hari minggu

tetapi

dasar perhitungannya bukan menggunakan Alkitab tetapi kalendar!

Persis seperti itu pemikiran saya di masa lalu jika ada yang bertanya mengenai perhitungan hari Sabat.

Seperti yang kita ketahui bersama, kalendar yang kita gunakan selama ini adalah produk dari manusia fana semenjak benua Amerika maupun Australia belum ditemukan.

Tepatnya kalendar adalah turunan dari kerajaan Romawi kuno yang pernah menguasai benua Eropa & kemudian tersebar hingga ke benua Amerika sebagai kolonisasi masa lampau dari kerajaan Spanyol serta ke benua Australia melalui kerajaan Inggris (bahkan di Indonesia melalui kerajaan Belanda).

Bagi yang pernah mempelajari sejarah dunia tentu mengetahui bahwa ditetapkannya hari minggu sebagai hari Sabat terjadi pada jaman kerajaan Romawi kuno di bawah rajanya (ironisnya) yang pertama kali menganut agama nasrani yaitu Konstantin Agung.

Sistem kalendar Romawi kuno sendiri mengadopsi satuan waktu mingguan dari kalendar bangsa Yahudi yang pernah menjadi jajahan dari imperium Romawi di masa lampau.

Jika ditelusuri lebih jauh ke belakang maka kalendar bangsa Yahudi (bangsa yang merupakan sumber dari perjanjian lama/hukum taurat di dalam agama nasrani) mengajarkan bahwa hari Sabat adalah hari sabtu.

Ada pula informasi yang saya temukan di internet bahwa Sabat hanya berlaku untuk bangsa Yahudi saja atau bagian dari hukum taurat/perjanjian lama dimana umat nasrani tidak perlu lagi tunduk dibawahnya sebab sudah dibebaskan oleh Yesus melalui perjanjian baru. Yang lain mengatakan bahwa hari minggu digunakan sebab merupakan kemenangan Yesus atas maut.

Malah timbul tudingan bahwa biang kerok pertentangan atas hari Sabat adalah aliran agama saya di masa lampau yang merupakan induk dari seluruh gereja (sepertinya lebih tepat dialamatkan kepada oom Konstantin?) bahkan muncul kubu antara yang mengakui Sabat sebagai sabtu maupun golongan yang berpegang kepada hari minggu, sehingga pertikaian sudah bergeser bukan lagi antar aliran!

Saya tidak menyalahkan pemikiran kawan saya yang sebetulnya bersumber dari raja Konstantin yang entah kenapa memutuskan bahwa Sabat adalah hari minggu tetapi jika kita masing2 berusaha menyelidiki dengan sungguh2 apa yang sudah tertanam di dalam benak selama ini & telah diterima beramai2 sebagai “kebenaran” maka kita akan menemukan jawabannya.

Bagaimana menurut anda?

MEDITASI LANGIT

January 29, 2012

Kira-kira satu tahun yang lalu memasuki usia tuwir, tiba-tiba timbul keinginan di dalam benak saya untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah terlintas di kepala sebelumnya, untuk mengetahui apakah saya masih bisa melakukannya? (mungkin ini yang disebut krisis paruh baya..he..he?).

Saya mulai tertarik melakukan olahraga2 ekstrim (padahal sebelumnya saya bukan lah tipe orang yang ekstrovert) & salah satunya adalah terjun payung/sky diving.

Saya mulai mencari-cari informasi untuk mewujudkannya namun sayangnya terbentur beberapa kendala antara lain minimnya penyelenggara olah raga terjun payung di Indonesia & saat ini terbatas dilakukan oleh angkatan udara dengan frekuensi yang tidak menentu (tergantung kapan mereka ingin mengadakan latihan). Itu pun dengan biaya yang tidak sedikit untuk membayar sewa pesawat milik angkatan udara.

Tetapi saya harus mencobanya sebelum tidak mampu lagi, jadi saya kembali mencari2 alternatif & menemukan olahraga paralayang/paragliding. Olahraga ini sudah sering saya lihat di Puncak, Bogor sewaktu masih berdomisili di Jakarta namun sekedar kagum saja melihatnya (but life is not a spectator sport).

Belakangan saya semakin antusias sebab berbeda dengan sky diving yang merupakan descending parachute (alias hanya bisa melayang turun), paralayang adalah satu-satunya olah raga terjun payung yang menggunakan ascending parachute sehingga kita bisa berlama-lama di angkasa dengan memanfaatkan tenaga angin yang menerpa punggung bukit (soaring) atau udara panas yang menguap ke atas akibat panas matahari (thermaling).

Yang kedua, paralayang ternyata lebih aman sebab kita tidak perlu melompat dari pesawat dengan kondisi payung belum mengembang, melainkan cukup dari punggung bukit yang landai dimana parasut meski masih menguncup namun diletakkan di tanah & dikembangkan dengan cara seperti menaikkan layang-layang sehingga apabila kita gagal maka resiko terburuk adalah mendapati diri kita terjerambab di punggung bukit mencium ibu pertiwi (terus terang rasanya tidak seenak cipika-cipiki dengan mama).

Apabila payung sudah berhasil mengembang maka angin yang meniup punggung bukit akan memberikan daya angkat kepada tubuh kita melalui bantuan “layang-layang raksasa” yang berada di atas kepala kita (pada lokasi2 yang berada di sepanjang garis khatulistiwa seperti kota Palu, proses take-off malah lebih mudah sebab dapat dilakukan di tanah biasa yang datar karena panas matahari akan menciptakan kolom udara yang menguap ke atas untuk menggantikan tenaga angin seperti layaknya balon udara tempo doeloe).

Bagaimana dengan biayanya? Relatif tidak terlalu mahal sekitar 7 juta-an yang terdiri dari:

1.Bayaran pelatih

2.Sewa peralatan untuk 40x penerjunan & radio komunikasi dua arah/walkie talkie untuk mendengarkan panduan dari pelatih selama take-off, flying & landing (di luar transportasi menuju lokasi penerjunan dengan menggunakan kendaraan pribadi bahkan naik angkot/ojek sebab parasut dapat dilipat & dimasukkan ke dalam ransel)

Adapun peralatan paralayang terdiri dari:

1.Parasut yang terbuat dari material seperti yang sekarang digunakan oleh jaket olahraga namun dirancang mengikuti prinsip2 aerodinamika sayap pesawat terbang agar dapat naik ke atas dengan memanfaatkan tenaga angin. Bentuknya seperti kantung yang tertutup namun pada bagian depan berlubang sebagai jalan masuknya angin agar dapat mengembang berbentuk sayap. Desain ini sangat praktis jika dibandingkan layang gantung/hang gliding sebab sayap tiruan ini dapat dikempeskan & dilipat menjadi ukuran kecil sehingga bisa dimasukkan ke dalam ransel (harga parasut ini mendekati 20 juta jika kita ingin memilikinya pribadi).

2.Ransel yang ukurannya sedikit lebih besar dari ransel pada umumnya & berfungsi untuk meyimpan parasut sekaligus sebagai tempat duduk sewaktu mengangkasa serta pelindung apabila kita terjatuh ke belakang saat take-off maupun seandainya jatuh terduduk saat landing. Harganya sekitar beberapa juta & memiliki bantalan yang empuk di dalamnya seperti sofa.

3.Radio komunikasi dua arah  (tidak teralalu dibutuh jika kita sudah cukup percaya diri untuk terbang mandiri & bersedia bertanggung jawab atas keselamatan/resiko terhadap diri sendiri)

4.Helm untuk melindungi kepala dari kemungkinan terantuk (beli sendiri jika tidak bersedia kepala bau menyan menggunakan helm bagi-pakai dari pelatih. Model terbaik seperti helm yang dipakai oleh pengendara motocross).

5.Sepatu untuk menghindari cedera mata kaki misalnya sepatu gunung (ideal) atau sepatu basket

6.Celana panjang seperti jins, kaos lengan panjang & sarung tangan yang tidak mudah sobek untuk melindungi kita saat terjatuh serta terhadap hawa dingin saat di angkasa (masker kain untuk muka serta kaca mata hitam sebagai tambahan, khususnya wanita sebab di angkasa terik matahari langsung membakar wajah dijamin membuat anda menjadi dakocan dalam sekejap).

Selama di udara kita akan disuguhi pemandangan spektakuler yang selama ini hanya bisa dinikmati melalui jendela pesawat plus merasakan secara langsung belaian dari alam berupa hembusan angin sejuk serta deru angin yang dahsyat.

Sulit untuk menggambarkan secara lengkap bagaimana rasanya bergantung di angkasa tanpa mengalaminya sendiri (ibarat menyaksikan sebuah film yang meski sangat realistis tapi kita tahu bahwa itu bukanlah kenyataan) tetapi sensasinya kira-kira mirip dengan yang dinikmati oleh para bikers, bedanya kita menunggang motor di udara tanpa keramaian & ada momen keheningan dimana kita tidak perlu kuatir akan apa pun yang berada di depan sebab terdapat ruang sangat lapang yang seolah2 membuka tangannya & senantiasa memberikan jalan padahal kita hanyalah sebuah titik kecil di langit & hanya bergantung pada beberapa utas tali (meditasi di langit).

Arah terbang dikendalikan dengan 2 buah handle yang berada di tali sebelah kiri & kanan parasut. Bagi yang pernah mencoba parasailing tentunya memahami prinsip kerja handle tersebut yaitu ditarik ke kiri jika ingin berbelok ke kiri (atau sebaliknya) & tarik kedua-duanya apabila sudah mendekati daratan/landing.

Untuk mengangkasa lebih tinggi maka kita harus mencari kolom udara panas (thermal) yang sayangnya tidak kasat mata & sementara hanya burung2 yang secara alamiah sensitif terhadap thermal, seperti burung elang yang dapat berputar-putar ke atas tanpa perlu mengepakkan sayapnya (teknik terbang dengan memanfaatkan tiupan angin di punggung bukit/soaring tidak bisa memberikan ketinggian melebihi bukit itu sendiri).

Namun ada sebuah alat yang bernama variometer dengan bentuk seperti gps portabel & akan memberikan bunyi peringatan apabila kita berbenturan dengan kolom udara panas sehingga kita tinggal menarik salah satu handle untuk berputar ke atas layaknya burung elang hingga mencapai ketinggian yang kita inginkan (bagi penerbang-penerbang yang sudah berpengalaman, tubuh mereka bisa beradaptasi untuk menjadi sensitif tanpa perlu menggunakan variometer lagi seperti layaknya burung2 di angkasa).

Bagaimana jika kita ingin menurunkan ketinggian? Cukup dengan menjauh dari punggung bukit atau keluar dari kolom thermal & secara otomatis kita akan melayang turun akibat gravitasi (fungsi payung paralayang berubah menjadi payung sky diving).

Meski menurut saya pribadi paralayang sangat aman namun ada beberapa hal yang perlu dipatuhi sebab jika tidak, maka pengalaman bermeditasi di langit bisa berubah menjadi bertemu sungguhan dengan sang Pencipta x-P.

Yang pertama tentunya adalah cuaca, dimana kecepatan angin haruslah moderat seperti hembusan angin yang sepoi2 (atau untuk mengetahuinya bisa menggunakan alat yang bernama meteran angin/windmeter).

Berikutnya take-off & landing harus berlawanan dengan arah angin untuk menjaring angin supaya payung bisa mengembang dengan cukup. Umumnya di tempat take off maupun landing disediakan petunjuk untuk melihat arah angin berupa kaos angin/windsock (atau bisa juga dengan mengamati tanda-tanda alam seperti arah asap, goyangan pohon dsb).

Jangan sekali-kali meneruskan terbang apabila cuaca memburuk misalnya angin mendadak menjadi ganas atau hujan mulai turun sebab payung paralayang tidak dirancang untuk menahan beban air seperti sayap pesawat terbang yang padat serta tidak memiliki tenaga mesin untuk melawan hembusan angin yang terlalu kencang. Apabila hal-hal tersebut terjadi ketika sedang berada di udara maka segera lakukan pendaratan.

Cukup banyak yang masih ingin saya ceritakan tapi tidak terasa tulisan ini mulai terlalu panjang, namun olahraga ini membantu menumbuhkan rasa cinta saya terhadap angkasa di mana Tuhan bersemayam?

Nah, bagi yang tertarik dapat menghubungi salah satu pusat pelatihan paralayang berikut ini: Fly Indonesia Paragliding di Sentul-Bogor dengan Bapak Nixon melalui 0818 491472.

1. HIDUP & MATERI

July 13, 2011

(tulisan pertama ini merupakan terjemahan bebas dari Thomas Troward yang mencoba menjembatani kebenaran tentang hidup di dalam ajaran agama2  yang terkadang sulit diterima logika, ke dalam bentuk ilmu pengetahuan ilmiah & filosofis agar lebih mudah dipahami oleh pemikiran orang banyak).

Semua orang mengetahui bahwa materi itu tidak mengandung kehidupan alias mati.

Mungkin ada yang masih ingat pelajaran sewaktu kita kecil bahwa sesuatu itu dikatakan hidup dikarenakan kemampuannya untuk bergerak atau bertumbuh misalnya tanaman, hewan & manusia.

Namun jika ditinjau dari sudut pandang ilmu pengetahuan Fisika maka materi harus lah dikatakan hidup jika semata2 mengacu kepada pernyataan di atas!

Mengapa? Dikarenakan segala materi yang ada di dunia, tersusun atas atom2 yang kasat mata & dimana ada atom berarti disitu ada elektron yang bergerak mengitarinya (perhatikan kata: bergerak).

Kalau begitu apakah materi juga harus dikatakan hidup? Tentu saja tidak, namun tepatnya materi meski tidak hidup alias mati namun juga bergerak hanya saja materi itu sendiri tidak menyadarinya (mayoritas orang pun sesungguhnya tidak menyadari fakta ilmiah ini).

Jadi yang membedakan kita maupun mahluk hidup yang lain dari materi adalah tingkat kesadarannya.

Nah, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah berbentuk seperti apakah kesadaran itu?

Untuk mahluk hidup, jelas kesadarannya tidak memiliki bentuk alias abstrak (coba lah tanyakan kepada seseorang bentuk dari kesadaran? Jika jawabannya kesadaran bentuknya adalah otak maka itu bukan lah bentuk yang sesungguhnya sebab orang mati tanpa kesadaran pun masih memiliki otak bukan?).

Untuk benda mati, jawabannya sedikit berbeda. Kita tahu bahwa materi tidak memiliki kesadaran sehingga bentuknya pasti lah bukan abstrak alias konkrit.

Dengan demikian tidak seperti halnya mahluk hidup yang memiliki kesadaran berbentuk abstrak (meski tubuhnya juga berupa materi), maka materi hanya memiliki bentuk konkrit saja.

Tubuh mahluk hidup & materi apa pun pasti memiliki dimensi alias ukuran & pasti berada di dalam sebuah ruang.

Sebaliknya kesadaran yang tidak berbentuk alias tidak berdimensi tentunya tidak mungkin berada di dalam ruang (ataukah ada yang memiliki pendapat bahwa kesadaran itu dimensinya seukuran tubuh mahluk ybs? jika demikian,  tentunya kesadaran di tubuh gajah akan melebihi kesadaran di tubuh tikus, faktanya tidak demikian bukan?).

Sekarang, berdasarkan ilmu Fisika, kita tahu bahwa materi (baik yang hidup seperti tubuh kita, maupun yang mati) selama berada di dalam ruang pasti terikat oleh waktu. Contoh: sebuah materi katakanlah tubuh kita berpindah dari ruang tamu ke ruang tidur maka kita dapat mengukur waktunya yaitu lama perpindahan materi tersebut dari satu titik ke titik lainnya.

Kesimpulannya, kesadaran itu tidak berada di dalam ruang & tidak terikat oleh waktu! (berlawanan dengan pendapat umum bahwa hidup kita senantiasa tunduk di bawah hukum ruang & waktu, sesungguhnya hanya tubuh kita yang berbentuk materi saja yang terikat oleh ruang & waktu).

(bersambung).

WHAT IS SUCCESS?

October 17, 2010

Sering-sering & banyak tertawa.

Dihormati orang & disayangi oleh anak-anak.

Dihargai kritikus & tegar menanggung pengkhianatan sahabat-sahabat semu.

Menghargai keindahan, menemukan yang terbaik pada sesama.

Meninggalkan dunia dalam keadaan sedikit lebih baik, entah lewat anak yang sehat, taman yang indah atau kondisi sosial yang lebih baik.

Mengetahui bahkan SATU SAJA  kehidupan telah bernafas lebih lega karena anda.

Inilah artinya sukses.

(Ralph Waldo Emerson)

THE HOLOGRAPHIC UNIVERSE PART 2

October 15, 2010

 

Percobaan GEO600 di pinggiran Hanover, Jerman, tidak begitu menarik orang. Yang terlihat dari luar hanya sebuah bedeng berbentuk kotak di satu sudut ladang pertanian, yang dihubungkan oleh dua selokan tertutup lempengan logam yang di bawahnya diletakkan pelacak yang panjangnya 600 meter.

Selama tujuh tahun terakhir, perangkat buatan Jerman itu melacak gelombang gravitasi dari benda-benda luar angkasa yang sangat kuat, seperti bintang netron dan Lubang Hitam.

Sejauh ini GEO600 memang belum mendeteksi satu pun gelombang grafitasi, tetapi teknologi itu secara tidak sengaja menghasilkan penemuan amat penting dalam ilmu fisika pada setengah abad terakhir ini.

Selama beberapa bulan, papar Marcus Chown dari New Scientist, anggota tim GEO600 dipusingkan oleh bebunyian tidak jelas yang terekam oleh detektor mereka. Lalu, tanpa disangka, seorang peneliti memperoleh jawaban, bahkan telah memperkirakan bunyi itu sebelum para ilmuwan mendeteksinya.

Menurut Craig Hogan, fisikawan dari laboratorium fisika Fermilab di Batavia, Illinois, Amerika Serikat, GEO600 telah mencapai batas fundamental ruang dan waktu – titik di mana ruang-waktu tidak lagi berbentuk aliran kontinum seperti dijelaskan Albert Einstein melainkan larut menjadi ‘butiran-butiran’ seperti titik kecil yang diperbesar oleh mikroskop.

“Sepertinya GEO600 dihantam oleh gelombang kuantum mikroskopik ruang dan waktu,” kata Hogan.

Hogan, yang baru diangkat menjadi Direktur untuk Pusat Astrofisika Partikel di Fermilab, bahkan mengajukan teori lebih dahsyat, “Jika bunyi yang dideteksi CEO600 benar seperti yang saya jelaskan, maka kita semua hidup di tengah hologram kosmik raksasa.”

Pemikiran Hogan terlihat absurd, tetapi itu adalah pemahaman terbaik mengenai lubang hitam dan merupakan landasan teori yang masuk akal. Ide itu bahkan sangat membantu ilmuwan dalam menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja di tingkat paling asasi.

Analoginya begini, hologram yang Anda temukan di kartu kredit atau kartu ATM ditempelkan pada plastik film dua dimensi. Begitu terkena sinar, hologram akan menampilkan citra tiga dimensi (3D).

Pada 1990, Leonard Susskind dan ilmuwan penerima Nobel Gerard’t Hooft menengarai berlakunya prinsip yang sama di alam semesta. Pengamatan sehari-hari manusia bisa merupakan gambaran holografis dari proses fisika di ruang dua dimensi.

Prinsip holografis itu menantang akal sehat kita. Bayangkan, Anda bangun tidur, sikat gigi, dan membaca artikel ini karena sesuatu terjadi di batas-batas semesta ini. Tidak seorang pun tahu jika kita benar-benar hidup dalam hologram, walaupun para ahli memiliki alasan logis bahwa banyak aspek dari prinsip holografis itu yang masuk akal.

Gagasan Suskind dan Gerard’t Hooft muncul didorong oleh hasil kerja Jakob Bekenstein dari Hebrew Unversity of Jerusalem, Israel dan Stephen Hawking dari Universitas Cambridge, tentang Lubang Hitam.

Pertengahan 1970an, Hawking membuktikan bahwa Lubang Hitam sebenarnya tidak sepenuhnya ‘hitam atau gelap’, sebaliknya secara memancarkan radiasi yang menyebabkannya menghilang.

Hawking menyisakan teka-teki karena tidak membeberkan apa yang dikandung Lubang Hitam.

Ketika Lubang Hitam menghilang, semua informasi mengenai fenomena yang berasal dari bintang mati itu pun sirna, bertolak belakang dengan teori sebelumnya yang meyakini bahwa informasi itu tidak bisa dihancurkan. Inilah yang dikenal dengan paradoks Lubang Hitam.

Hasil kerja Bekenstein ini merintis jalan untuk menjelaskan paradoks itu. Ia menemukan, entropi Lubang Hitam (ukuran kuantitatif dari sistem perpindahan panas yang tidak beraturan), ternyata sama dengan informasi yang dikandungnya dan proporsional dengan daerah permukaan horisonnya.

Ini adalah selubung teoritis yang menutup Lubang Hitam, sekaligus menandakan tidak ada hal yang bisa dijelaskan dari materi atau cahaya yang tersedot Lubang Hitam.

Sejak itu, para ilmuwan menunjukan bahwa gelombang kuantum mikroskopik pada horison (lapisan sekeliling Lubang Hitam di mana semua benda yang melintasinya dihisap ke dalam) dapat melambangkan informasi dalam Lubang Hitam sehingga tak ada informasi misterius yang hancur saat Lubang Hitam menghilang.

Artinya, informasi 3D tentang bintang mati dapat disandikan secara lengkap di horison Lubang Hitam yang timbul dari bintang itu, tidak sepenuhnya mirip seperti citra 3D sebuah benda yang dikodekan dalam hologram dua dimensi.

Susskind dan Hofft memperluas pandangan kita terhadap alam semesta secara keseluruhan pada tingkat bahwa semesta ini juga mempunyai batas horison, yaitu garis batas di mana cahaya tidak mampu mencapai bumi dalam 13,7 miliar tahun.

Lebih dari itu, penelitian para ilmuwan, khususnya Juan Maldacena dari Institute for Advanced Study, Princeton, telah memastikan bahwa teori itu benar. Maldacena menunjukkan bahwa fisika di alam semesta hipotetis sebagai lima dimensi adalah sama dengan fisika mengenai batas empat dimensi.

Menurut Hogan, prinsip holografis secara radikal mengubah gambaran kita mengenai ruang dan waktu. Para teorisi fisika sejak lama percaya bahwa efek kuantum akan menyebabkan ruang dan waktu bergoncang liar.

Pada perbesaran itu, struktur ruang dan waktu berubah menjadi partikel-partikel kecil yang ratusan miliar-miliar kali lebih kecil dari proton.

Besarnya pengembangan struktur itu dikenal dengan nama Konstanta Planck, panjangnya 10-35 meter dan jauh di luar jangkauan percobaan manapun sehingga tidak seorang pun berani bermimpi bahwa butiran-butiran ruang dan waktu itu mungkin bisa lenyap.

Hogan akhirnya menyadari prinsip holografis itu telah mengubah banyak hal. Jika ruang dan waktu diibaratkan hologram kasar, maka Anda bisa membayangkan semesta sebagai ruang yang lapisan luarnya direkatkan pada lapisan-lapisan Planck yang masing-masing menyimpan informasi.

Prinsip holografis mengatakan, jumlah informasi yang direkatkan di luar seharusnya sesuai dengan jumlah informasi yang dikandung dalam volume semesta. Lalu, bagaimana caranya volume ruang semesta bisa jauh lebih besar dari lapisan luarnya?

Hogan menyadari, isi volume semesta dan batasannya mempunyai jumlah informasi yang sama, maka ruang di luarnya harus dibangun dari butiran-butiran yang lebih besar dari skala Planck, “Atau, dengan cara lain, sebuah semesta holografis itu kabur,” ungkapnya.

Ini kabar baik bagi mereka yang berupaya meneliti unit terkecil dari ruang dan waktu. “Bertentangan dengan dengan perkiraan sebelumnya, semesta holografis menempatkan struktur kuantum mikroskopiknya ada jangkauan eksperimen-eksperimen,” jelas Hogan.

Jadi, sementara konstanta Planck terlalu kecil untuk diteliti, proyeksi holografis butiran-butiran itu bisa lebih besar, sekitar 10-16 meter. “Jika Anda hidup dalam hologram, Anda bisa menjelaskannya dengan mengukur kadar kekaburannya.”

Ketika Hogan menyadari hal ini untuk pertamakalinya, dia tidak yakin apakah ada uji coba yang bisa menghitung kadar kekaburan dari ruang waktu. Itulah ketika GEO600 muncul.

Pelacak gelombang gravitasi seperti GEO600 adalah alat yang luar biasa sensitif. Gelombang gravitasi melalui GEO600 akan secara bergantian merenggangkan ruang pada satu arah, dan memerasnya di tempat lain.

Untuk menghitungnya, tim GEO600 menembakkan sinar laser melalui cermin setengah perak yang disebut pembelah sinar. Cermin ini membagi cahaya menjadi dua sinar, yang melewati lengan tegak sepanjang 600 meter pada instrumen pembelah sinar itu dan memantul kembali.

Sinar pantulan itu menyatu di pembelah sinar dan menciptakan pola penyatuan antarcahaya dan bidang gelap di mana gelombang cahaya saling menguatkan, dan sebaliknya. Setiap pergeseran posisi di wilayah-wilayah itu menjelaskan bahwa panjang relatif lengan telah berubah.

“Kuncinya adalah uji coba seperti itu sangat sensitif terhadap perubahan panjang lengan alat yang jauh lebih pendek dari diameter proton,” pungkas Hogan.

Reference: Antara

THE HOLOGRAPHIC UNIVERSE PART 1

October 14, 2010

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa Semuanya itu mungkin akan mengubah wajah sains.

Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah  mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain.

Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.

Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid],alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna.

Untuk memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto.

Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ.

Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil).

Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara keseluruhan.

Sifat “keseluruhan di dalam setiap bagian” dari sebuah hologram, memberikan kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal –baik seekor katak atau sebuah atom– adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti bagian-bagiannya.

Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.

Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi.
Bohm berkilah, bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan [extension] dari sesuatu yang esa dan fundamental.

Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan ilustrasi berikut:

Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya.

Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang
kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.

Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi sesuai; jika yang satu menghadap kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya.

Menurut Bohm, inilah sesungguhnya yang terjadi di antara partikel-partikel subatomik dalam eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya
.
Partikel-partikel seperti itu bukanlah “bagian-bagian” yang terpisah, melainkan faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri dari apa yang disebut “eidolon-eidolon” ini, maka alam semesta itu sendiri adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Elektron-elektron didalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.

Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena konsep-konsep seperti ‘lokasi’ runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga dimensional –seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas– harus dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi.

Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan terbuka. Bila diterima –dalam diskusi ini– bahwa superhologram itu merupakan matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan akan ada — setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat sebagai gudang kosmik dari “segala yang ada”.

Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu “sekadar satu tingkatan”, yang di luarnya terletak “perkembangan lebih lanjut yang tak terbatas.”

Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas.

Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.

Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme ponyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini.

Lalu pada tahun 1960-an Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram.

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopaedia Britannica).

Demikian pula telah ditemukan bahwa di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi — hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda pada permukaan yang sama. Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi.

Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut “zebra”, Anda tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, berbagai asosiasi seperti “bergaris-garis”, “macam kuda”, dan “binatang dari Afrika” semua muncul di kepala Anda dengan seketika.

Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi-silang dengan setiap butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi.

Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram. Teka-teki lain adalah bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra menjadi persepsi di dalam batin kita.

Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya. Sesungguhnya, teori Pribram makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi. Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini.

Zucarelli juga mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan.

Keyakinan Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas “keras” dengan mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat dikungan sejumlah eksperimen.

Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang dianggap orang sebelum ini.

Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan “frekuensi kosmik”, dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas frekuensi. Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain kesadaran holografik saja frekuensi-frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional.

Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi.

Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.

Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu menggairahkan sementara ilmuwan lain.
Suatu lingkungan kecil ilmuwan –yang jumlahnya makin bertambah– percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik.

Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness].

Pada tahun 1950-an, ketika melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan sikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.

Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentan hal-hal itu, suatu percakapan dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting untuk membangkitkan birahi.

Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sering kali mengandung informasi zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat.

Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.

Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika]. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai “pengalaman transpersonal”, dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.

Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.

Sebagaimana dicatat Grof baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa
batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains “keras” seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal.

Pembalikan cara melihat struktur-struktur biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi
holografik dari kesadaran, maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung-jawab bagi kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan kedokteran masa kini. Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan penyakit yang bersifat “mukjizat” mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani.

Demikian pula, teknik-teknik penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya sama nyatanya dengan “realitas”.

Bahkan berbagai visiun dan pengalaman yang menyangkut realitas yang “tidak biasa” dapat dijelaskan dengan paradigma holografik. Dalam bukunya “Gifts of Unknown Things”, pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan seorang dukun perempuan Indonesia yang, dengan melakuan semacam tarian ritual, mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi beberapa kali berturut-turut.

Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti ini menjadi lebih mungkin jika realitas “keras” tidak lebih dari sekadar proyeksi holografik.

Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas.

Jika ini benar, maka ini adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu berarti bahwa pengalaman-pengalaman sebagaimana dialami oleh Watson adalah tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan kepercayaan-kepercayaan yang membuatnya lazim. Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah mungkin, mulai dari melengkungkan sendok dengan kekuatan batin sampai peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya dengan dukun Indian bangsa Yaqui, Don Juan, oleh karena sihir adalah hak asasi kita, tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi.

Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh Pribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. ‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.

Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika di Birbeck College di London, temuan Aspect “menunjukkan bahwa kita harus siap mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas.”

Reference: http://www.tf.itb.ac.id

CHILDREN OF GOD

October 13, 2010

(below was Nelson Mandela speech during his inauguration as President which he quoted from Marianne Williamson)

Our deepest fear is not that we are inadequate.

Our deepest fear is that we are powerful beyond measure.

It is our light, not our darkness, that most frightens us.

We ask ourselves, who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous?

Actually, who are you not to be?

You are a child of God.

Your playing small doesn’t serve the world.

There’s nothing enlightened about shrinking so that other people won’t feel insecure around you.

We are all meant to shine, as children do.

We were born to make manifest the glory of God that is within us.

It’s not just in some of us; it’s in everyone.

And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same.

As we’re liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.

(who are you? why you were born? what do you manifest? everyone are children of God?)

THE ANSWER

October 12, 2010

(puisi berikut bukan sekedar kata-kata kosong sebab ada orang yang telah membuktikan hasilnya yang pasti meski dipenjara selama 27 tahun, bagi yang tidak mempercayainya secara ilmiah cukup mematahkannya dengan masuk penjara lebih lama).

Dari malam yang menyelimutiku, sehitam lubang yang dalam.

Aku BERTERIMA KASIH kepada Tuhan dimanapun Ia berada.

Atas JIWAKU yang TAK TERKALAHKAN.

Di dalam keadaan yang menimpaku.

Aku tak mengeluh atau pun menangis.

Di bawah tempaan takdir.

Jiwaku berdarah namun tak terpatahkan.

Di balik tempat amarah & air mata ini.

Hanya mengintip kematian.

Namun, ancaman bertahun-tahun, akan menemukanku TANPA RASA TAKUT.

Seberapa pun kuatnya gerbang.

Seberapa pun beratnya hukuman.

Aku adalah PENGUASA NASIBKU.

Aku adalah KAPTEN JIWAKU.

(judul aslinya Invictus & dikarang oleh William Henley yang menderita TBC tulang saat masih kecil sehingga harus kehilangan kakinya untuk diamputasi namun beliau tetap hidup secara utuh hingga akhir hayatnya serta membangkitkan inspirasi terhadap Nelson Mandela, orang yang disebutkan di atas).